PENGANTAR AGRIBISNIS
Integrasi (Vertikal dan Horizontal)
Dalam sistem Agribisnis
Jambu Mete
OLEH
:
KELOMPOK
10
KELAS
E
1. Made
Dwiyanty Erawati ( D1A113248)
2. Muh.
Arwan Said ( D1A113246)
3. Dwi
Hastuti Ningsih ( D1A113247)
4. Estin
Januarianti Ilham ( D1A113249)
5. Riskayana
( D1A113250)
JURUSAN
AGRIBISNIS
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
HALU OLEO
KENDARI
2013
I. PENDAHULUAN
A. Pendahulua
Jambu mente (Annacardium
occidentale L.) merupakan tanaman yang serba guna. disamping sebagai
sumber pendapatan masyarakat, juga sangat cocok digunakan dalam konservasi
lahan keritis dan gersang, sehingga tanaman jambu mente ini banyak didapatkan
di daerah kering dan di kawasan bekas tambang (Anonim, 2005).
Pertanian
modern merupakan struktur dari perekonomian global, dimana pengalihan bahan
pangan dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian tidak lagi ditentukan oleh
kebutuhan petani dalam memproleh tukaran bahan atau barang untuk memenuhi
kebutuhan pokoknya akan tetapi ditentukan oleh kekuatan pasar.
Tanaman jambu
mente sangat prospektif untuk di kembangkan di Indonesia, karena memiliki daya
adaptasi yang sangat luas terhadap faktor lingkungan. Tanaman jambu mente tahan
terhadap kekeringan dan dapat tumbuh serta menghasilkan buah walaupun ditanam
di daerah yang kering dan tandus (gersang).
Tanaman ini
sudah cukup lama dikenal di Indonesia, tetapi tanaman ini belum di budidayakan
secara intensif. Padahal hasil utama tanaman ini, yaitu kacang mente yang
merupakan salah satu jenis makanan ringan yang banyak digemari serta merupakan
rasa penyedap rasa produk-produk, seperti es krim dan coklat batangan. buah
semunya pun dapat dimanfaatkan sebagai bahan olahan.
Menurut Nunung
( 2000), penggunaan lahan kering untuk perkebunan dengan teknik konservasi
tanah dan air sebagai komponen pokok sistem pengolahannya, jenis tanaman yang
dikembangkan adalah tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, dapat menyerap
tenaga kerja yang lebih banyak, mempunyai prospek pasar dan pemasaran yang baik
serta dapat mempertinggi nilai gizi masyarakat.
Tanaman jambu mente mendapatkan
prioritas utama dalam pengembangan di lahan kering adalah, karena tanaman ini
tergolong tanaman yang muda menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan
sehingga tanaman ini sangat dianjurkan untuk di budidayakan.
Berdasarkan
uraian di atas, maka disusunlah makalah ini dengan judul budidaya tanaman jambu
mente dan penanganan pasca panen.
B.
Tujuan
Mengetahui teknik budidaya
tanaman jambu mete ( Anacardium accidentaleL.) secara teori dan penanganan
pasca panen.
II.
PEMBAHASAN
Jambu mete merupakan tanaman buah
berupa pohon yang berasal dari Brasil Tenggara. Tanaman ini dibawa oleh pelaut
Portugis ke India 425 tahun yang lalu, kemudian menyebar ke daerah tropis dan
subtropis lainnya seperti Bahana, Senegal, Kenya, Madagaskar, Mozambik,
Srilangka, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Di antara sekian banyak
negara produsen, Brasil, Kenya, dan India merupakan negara pemasok utama jambu
mete dunia. Jambu mete tersebar di seluruh Nusantara dengan nama berbeda-beda
(di Sumatera Barat: jambu erang/jambu monye, di Lampung dijuluki gayu, di
daerah Jawa Barat dijuluki jambu mede, di Jawa Tengah dan Jawa Timur diberi
nama jambu monyet, di Bali jambu jipang atau jambu dwipa, dan di Sulawesi Utara
disebut buah yaki.
B. Jenis
Tanaman Jambu Mete
Jambu mete mempunyai puluhan
varietas, di antaranya ada yang berkulit putih, merah, merah muda, kuning,
hijau kekuningan dan hijau.
C. Manfaat Tanaman Jambu Mete
Tanaman jambu mete merupakan
komoditi ekspor yang banyak manfaatnya, mulai dari akar, batang, daun, dan
buahnya. Selain itu juga biji mete (kacang mete) dapat digoreng untuk makanan
bergizi tinggi. Buah mete semu dapat diolah menjadi beberapa bentuk olahan
seperti sari buah mete, anggur mete, manisan kering, selai mete, buah kalengan,
dan jem jambu mete. Kulit kayu jambu mete mengandung cairan berwarna coklat.
Apabila terkena udara, cairan tersebut berubah menjadi hitam. Cairan ini dapat
digunakan untuk bahan tinta, bahan pencelup, atau bahan pewarna. Selain itu,
kulit batang pohon jambu mete juga berkhasiat sebagai obat kumur atau obat
sariawan. Batang pohon mete menghasilkan gum atau blendok untuk bahan perekat buku.
Selain daya rekatnya baik, gum juga berfungsi sebagai anti gengat yang sering
menggerogoti buku. Akar jambu mete berkhasiat sebagai pencuci perut. Daun Jambu
mete yang masih muda dimanfaatkan sebagai lalap, terutama di daerah Jawa Barat.
Daun yang tua dapat digunakan untuk obat luka bakar.
D. Sentra
Penanaman Jambu Mete
Tanaman jambu mete banyak tumbuh di
Jawa Tengah (Jepara, Wonogiri), Jawa Timur (Bangkalan, Sampang, Sumenep,
Pasuruan, dan Ponorogo), dan di Yogyakarta (Gunung Kidul, Bantul, dan Sleman).
Di luar Pulau Jawa, Jambu mete banyak ditanam di Bali (Karangasem), Sulawesi
Selatan (Kepulauan Pangkajene, Sidenreng, Soppeng, Wajo, Maros, Sinjai, Bone,
dan Barru), Sulawesi Tenggara (Muna). dan NTB (Sumbawa Besar, Dompu, dan Bima).
E. Syarat Tumbuh
Jambu Mete
a.
Iklim Yang Cocok Untuk Budidaya
Jambu Mete
1. Tanaman
jambu mete sangat menyukai sinar matahari. Apabila tanaman jambu mete
kekurangan sinar matahari, maka produktivitasnya akan menurun atau tidak akan
berbuah bila dinaungi tanaman lain.
2. Suhu harian
di sentra penghasil jambu mete minimun antara 15-25°C dan maksimun antara
25-35°C. Tanaman ini akan tumbuh baik dan produktif bila ditanam pada suhu
harian rata-rata 27°C.
3. Jambu mete
paling cocok dibudidayakan di daerah-daerah dengan kelembaban nisbi antara
70-80%. Akan tetapi tanaman jambu mete masih dapat bertoleransi pada tingkat
kelembaban 60-70%.
4. Angin kurang
berperan dalam proses penyerbukan putik tanaman jambu mete. Dalam penyerbukan
bunga jambu mete, yang lebih berperan adalah serangga karena serbuk sari jambu
mete pekat dan berbau sangat harum.
5. Daerah yang
paling sesuai untuk budidaya jambu mete
ialah di daerah yang mempunyai jumlah curah hujan antara 1.000-2.000 mm/tahun
dengan 4-6 bulan kering (<60 mm).
b.
Media Tanam
1. Jenis tanah
paling cocok untuk pertanaman jambu mete adalah tanah berpasir, tanah lempung
berpasir, dan tanah ringan berpasir.
2. Jambu mete
paling cocok ditanam pada tanah dengan pH antara 6,3 - 7,3, tetapi masih sesuai
pada pH antara 5,5 - 6,3.
c.
Ketinggian Tempat
Di Indonesia tanaman jambu mete
dapat tumbuh di ketinggian tempat 1-1.200 m dpl. Batas optimum ketinggian
tempat hanya sampai 700 m dpl, kecuali untuk tujuan rehabilitasi tanah kritis.
F. PEDOMAN
BUDIDAYA JAMBU METE
a.
Pembibitan Jambu Mete
Budidaya
jambu mete dapat diperbanyak secara generatif
melalui biji dan secara vegetatif dengan cara pencangkokan, okulasi, dan
penyambungan. Biji yang akan ditanam harus berasal dari pohon induk pilihan.
Cara penanganan biji mete untuk benih adalah :
·
Buah mete/calon bibit dipanen pada
pertengahan musim panen.
·
Buah mete tersebut harus sudah
matang dan tidak cacat.
·
Biji mete segera dikeluarkan dari
buah semu lalu dicuci bersih, kemudian disortir.
·
Biji mete dijemur sampai kadar air
8-10%.
·
Bila dikemas dalam kantong plastik,
aliran udara di ruang penyimpanan harus lancar dengan suhu antara 25-30 derajat
C dan kelembaban: 70 -80%.
·
Lama penyimpanan bibit ± 6 bulan,
paling lama 8 bulan.
·
Sebelum ditanam, benih (biji mete)
harus disemai dahulu.
b.
Pengolahan Media Tanam
1.
Persiapan
Sebelum ditanami lahan harus
dibersihkan dahulu, pH harus 4-6, tanah tanaman jambu mete sangat toleran
terhadap lingkungan yang kering ataupun lembab, juga terhadap tanah yang kurang
subur. Daerah dengan tanah liat pun jambu mete dapat tetap bisa hidup dan berproduksi
dengan baik. saat tanam jambu mete adalah awal musim hujan, pengolahan tanah
sudah dimulai di musim kemarau.
2.
Pembukaan lahan
Lahan yang akan ditanami jambu mete
harus terbuka atau terkena sinar matahari dan disiapkan sebaik-baiknya.Tanah
dibajak/dicangkul sebelum musim hujan. Batang-batang pohon disingkirkan dan
dibakar, untuk tanah yang pembuangan airnya kurang baik dibuatkan parit-parit
drainase.
3.
Pemupukan
Pemberian pupuk kandang dimulai
sejak sebelum penanaman. Sebaiknya disaat tanaman masih kecil, pemupukan dengan
pupuk kandang itu diulangi barang dua kali setahun. Caranya dengan menggali
lubang sekitar batang, sedikit diluar lingkaran daun. pupuk atau kompos
dimasukkan kedalam lubang galian itu. Pemupukan berikutnya dilakukan dengan
menggali lubang, diluar lubang sebelumnya. Pemberian pupuk kandang dan kompos,
kecuali dimaksudkan untuk memperbaiki keadaan fisik tanah.
c.
Teknik Penanaman
1.
Penentuan Pola dan Jarak Tanam
Pada budi daya monokultur jarak
tanam dianjurkan 12 x 12 m. Maka dalam setiap satu ha lahan jumlah total
tanaman yang dibutuhkan sebanyak 69 batang. Jarak tanam dapat dibuat dengan
ukuran 6 X 6 m sehingga jumlah total tanaman yang dibutuhkan adalah 276
batang/ha. Kerapatan tanaman kemudian dijarangkan pada umur 6-10 tahun. Untuk
efisiensi lahan, dapat diterapkan budidaya polikultur. Beberapa jenis tanaman
bernilai ekonomis dapat dimanfaatkan sebagai tanaman sela. Sebagai contoh
adalah tanaman palawija, rumput setaria, dan jambu mete. Bibit jambu mete yang
berasal dari pencangkokan dapat ditanam dengan jarak 5 x 5 m, bila jarak tanam
jambu mete 10 x 10 m. Kedua bentuk ini hanya dapat diterapkan di lahan datar.
Di lahan miring harus disesuaikan dengan garis kontur.
2.
Pembuatan Lubang Tanam
Cara membuat lubang tanam:
1.
Tanah digali dengan ukuran : 30 x 30
x 30 cm. Bila jenis tanahnya sangat liat, ukuran lubang tanam dibuat: 50 x 50 x
50 cm. Bila di lubang tanam terdapat lapisan cadas, harus ditembus, agar akar
dapat tumbuh sempurna dan terhindar dari genangan air.
2.
Pada waktu penggalian lubang,
lapisan tanah bagian atas dipisahkan ke arah Utara dan Selatan serta lapisan
bawah ke arah Timur dan Barat.
3.
Lubang tanam dibiarkan terbuka ± 4
minggu. Pada waktu penutupan lubang, tanah lapisan bawah dikembalikan ke tempat
semula, disusul lapisan atas yang telah bercampur dengan pupuk kandang ± 1
pikul.
4.
Di lubang tanam yang telah ditimbun
dibuat ajir agar lubang tanam mudah ditemukan kembali.
3.
Cara Penanaman
Penanaman dapat dilakukan 4–6 minggu
setelah lubang tanam disiapkan. Untuk mengurangi keasaman tanah, pembuatan
lubang tanam sebaiknya dilakukan pada musim kemarau.Hal-hal yang perlu
diperhatikan adalah sebagai berikut:
·
Bibit yang akan ditanam dilepas dari
polybag. Tanah yang melekat pada akar dijaga jangan sampai berantakan agar
perakaran bibit tidak rusak.
·
Penanaman dilakukan sampai sebatas
leher akar atau sama dalamnya seperti sewaktu masih dalam persemaian. Bila
menggunakan bibit dari okulasi dan sambung, diusahakan akar tunggangnya tetap
lurus. Letak akar cabang diusahakan tersebar kesegala arah. Ujung-ujungnya yang patah/rusak
sebaiknya dipotong.
·
Tanah disekitar batang dipadatkan
dan diratakan agar tidak dapat terdapat rongga-rongga udara diantara akar dan
tidak terjadi genangan air. Tanaman perlu diberi penyangga dari bambu agar
dapat tumbuh tegak.
d.
Pemeliharaan Tanaman Jambu Mete
1.
Penyiraman
Bibit yang baru ditanam memerlukan
banyak air. Oleh karena itu tanaman perlu disiram pada pagi dan sore hari.
Penyiraman dilakukan secukupnya dan air siraman jangan sampai menggenangi
tanaman.
2.
Penyulaman
Penyulaman dilakukan setalah tanaman
berumur 2-3 tahun. Apabila tanaman berumur =3 tahun maka pertumbuhan tanaman
sulaman umumnya kurang baik atau akan terhambat.
3.
Penyiangan dan Penggemburan
Bibit jambu mete mulai berdaun dan
bertunas setelah 2-3 bulan ditanam. Pembasmian gulma sebaiknya dilakukan sekali
dalam 45 hari. Tanah yang disiram setiap hari tentu semakin padat dan udara di
dalamnya semakin sedikit. Akibatnya, akar tanaman tidak leluasa menyerap unsur
hara. Untuk itu tanah di sekitar tanaman perlu digemburkan.
4.
Pemupukan
Tanaman jambu mete dipupuk dengan
pupuk kandang, kompos, atau pupuk buatan. Pemberian pupuk kandang/ kompos
dilakukan dengan cara menggali parit melingkar, di luar tajuk sebanyak ± 2 blek
minyak tanah (.... 20 kg). Pupuk dituangkan ke dalam parit dan ditutup dengan
tanah. Pemupukan berikutnya dilakukan dengan pupuk buatan.
5.
Pemangkasan Cara pemangkasan tanaman
jambu mete dilakukan sebagai berikut:
- Tunas-tunas samping pada bibit terus-menerus dipangkas sampai tinggi cabang mencapai 1 - 1,5 m dari tanah.
- Pilih 3 - 5 cabang sehat dan baik posisinya terhadap batang pokok .
- Pemangkasan ini dilakukan sebelum tanaman berbunga. Pemangkasan untuk pemeliharaan dilakukan setelah tanaman berbuah.
6.
Penjarangan
Penjarangan dilakukan bertahap pada
saat tajuk tanaman saling menutupi. Apabila jarak tanaman 6 x 6 m dan ditanam
secara monokultur maka tajuk tanaman diperkirakan sudah bersentuhan pada tahun
6 - 10 tahun. Pada saat itu penjarangan mulai dilakukan.
G. HAMA DAN PENYAKIT JAMBU METE
a.
Hama Jambu Mete
Hama yang sering menyerang tanaman
jambu mete adalah hama pengisap daun, nyamuk daun, penggerek daun, penggulung
daun, ulat kipat, ulat hijau, dan ulat perusak bunga. Insektisida yang
dianjurkan antara lain: Tamaron, Folidol, Lamnate, Basudin dan Dimecron dengan
dosis 2cc atau 2 gram/liter air.
1.
Ulat kipat (Cricula trisfenestrata Helf)
- Pada tanaman terlihat kepompong bergelantungan. Ulat berwarna hitam bercak-bercak putih, kepala dan ekor warna merah nyala, seluruh tubuhnya ditumbuhi.rambut putih. Telurnya berwarna putih, oval. Fase pupa berlangsung 4 minggu, fase kepompong 3-5 minggu.
- Gejala: daun-daun tidak utuh dan terdapat bekas gigitan; pada serangan yang hebat, daun dapat habis sama sekali, tetapi tanaman tidak mati; tanaman tidak akan menghasilkan buah, dan baru pulih setelah 18 bulan.
- Pengendalian: dengan menyemprotkan insektisida Symbush 50 EC atau Pumicidin dengan dosis 1,0 - 1,5 ml/liter air
2.
Helopeltis sp.
- Tubuh imago berwarna hitam, kecuali abdomen bagian belakang sebelah bawah berwarna putih.
- Gejala: pada tunas-tunas daun muda, tangkai daun terdapat bercak-bercak hitam tidak merata; daun dan ranting segera mengering dan diikuti dengan gugurnya daun.
- Pengendalian: melalui teknik bercocok tanam, misalnya dengan mengurangi tanaman inang atau tanaman peneduh; dengan insektisida Agroline dengan dosis 0,2 % atau Thiodan dengan dosis 0,02 %.
3.
Ulat penggerek batang (Plocaederus
feeeugineus L)
- Gejala: mula-mula daun berubah warna menjadi kuning; lama-kelamaan daun akan gugur/rontok dan tanaman dapat mati.
- Pengendalian: dengan menangkap ulat penggerek tersebut; dengan mengolesi sekitar permukaan batang/akar dengan larutan BMC 1-2% (20 gram/liter air).
4.
Hama penggerek buah dan biji
(Nephoteryx sp.)
- Gejala: buah muda yang diserang hama ini akan berjatuhan dan kering, sedang buah tua isinya belum penuh.
- Pengendalian: belum didapatkan cara yang tepat, sebab larva instar yang jatuh terakhir dan menjadi pupa di tanah, maka hama dapat diberantas secara mekanis atau kimiawi, yaitu dengan menggunakan Karbaril 0,15%.
b.
Penyakit Jambu Mete
Penyakit yang sering menyerang adalah
penyakit busuk batang dan akar, penyakit bunga dan putik, dan Antracnossis.
Penyakit ini dapat dibasmi dengan Fungisida Zinc Carmamate, Captacol dan
Theophanatea.
Penyakit layu
- Penyakit ini muncul bila tempat pembibitan terlalu lembab dan jenuh air.
- Penyebab: jamur Phytophthora palmivora, Fusarium sp. dan Phytium sp.
- Gejala: bila tanaman tiba-tiba menjadi layu.
- Pengendalian: dengan memperbaiki lingkungan pembibitan, seperti memperdalam parit pembuangan air dan mengurangi naungan yang terlalu rapat; dengan penyemprotan Dithane M 45 secara teratur dan terencana
c.
Daun layu dan kering
- Penyebab: bakteri Phytophthora solanacearum.
- Gejala: secara mencolok daun-daun berubah warna dari hijau menjadi kuning lalu gugur; beberapa cabang meranggas dan tanaman akhirnya mati; jaringan kayu pada batang yang terserang di bawah kulit berwarna hitam atau biru tua dan berbau busuk.
- Pengendalian: tanaman yang terserang penyakit ini harus dibongkar sampai ke akar-akarnya supaya penyakit tidak menular ke tanaman lain; pencegahan harus secara terpadu; bibit dan alat-alat pertanian harus bebas dari kontaminasi bakteri dan karantina tanaman dilakukan secara konsekuen.
d.
Bunga dan buah busuk
- Penyebab: Colletrichum sp., Botryodiplodia sp., Pestalotiopsis sp. --> Gejala: kulit buah hitam dan busuk.
- Penyebab: Pestalotiopsis sp, Colletrichum sp, Pestalotiopsis sp., Botryodiplodia sp., Fusarium sp. --> Gejala: permukaan kulit buah & kulit biji, kering kecoklatan & pecah-pecah, bunga & tangkainya busuk.
- Penyebab : Botryodiplodia sp. , Fusarium sp., Pestalotiopsis sp. -- > Gejala: kulit biji busuk dan hitam.
- Pengendalian: perlu dilakukan secara terpadu; untuk memberantas jamur parasit ini beberapa fungisida yang efektif adalah Dithane M-45, Delsene MX 200, Difolan 4F, Cobox, dan Cuproxy Chloride.
H. PANEN JAMBU
METE
a.
Ciri dan Umur Panen Jambu Mete
Ciri-ciri buah jambu mete yang sudah tua adalah
sebagai berikut:
- Warna kulit buah semu menjadi kuning, oranye, atau merah tergantung pada jenisnya.
- Ukuran buah semu lebih besar dari buah sejati.
- Tekstur daging semu lunak, rasanya asam agak manis, berair, dan aroma buahnya mirip aroma stroberi.
- Warna kulit bijinya menjadi putih keabu-abuan dan mengilat. Ketepatan masa panen dan penanganan buah mete selama masa pemanenan merupakan faktor penting. Tanaman jambu mete dapat dipanen untuk pertama kali pada umur 3-4 tahun. Buah mete biasanya telah dapat dipetik pada umur 60-70 hari sejak munculnya bunga. Masa panen berlangsung selama 4 bulan, yaitu pada bulan November sampai bulan Februari tahun berikutnya. Agar mutu gelondong/kacang mete baik, buah yang dipetik harus telah tua.
b.
Cara Panen
Sampai saat ini ada dua cara panen
yang lazim dilakukan di berbagai sentra jambu mete di dunia, yaitu cara lelesan
dan cara selektif.
1.
Cara lelesan
Dilakukan dengan membiarkan buah
jambu mete yang telah tua tetap di pohon dan jatuh sendiri atau para petani
menggoyang-goyangkan pohon agar buah yang tua berjatuhan.
2.
Cara selektif
Dilakukan secara selektif (buah
langsung dipilih dan dipetik dari pohon). Apabila buah tidak memungkinkan
dipetik secara langsung, pemanenan dapat dibantu dengan galah dan tangga
berkaki tiga.
3.
Prakiraan Produksi
Banyaknya hasil panen tergantung
dari umur tanam. Jambu mete yang berumur 3-4 tahun dapat menghasilkan gelondong
kering 2-3 kg/pohon. Hasil ini meningkat menjadi 15-20 kg/pohon pada umur 20-30
tahun. Tanaman jambu mete sebenarnya masih dapat berproduksi sampai umur 50
tahun, tetapi masa paling produktifnya adalah pada umur 25-30 tahun.
I. PASCAPANEN
JAMBU METE
a.
Pengumpulan
Mutu kacang mete di pasaran cukup
bervariasi. Variasi mutu kacang mete tersebut antara lain dipengaruhi oleh
varietas tanaman jambu mete yang berbeda dan perlakuan serta pengawasan selama
proses pengolahan berlangsung. Banyaknya varietas tanaman jambu mete yang
ditanam oleh para petani indonesia menyebabkan mutu mete yang dihasilkan sangat
beragam baik mengenai ukuran gelondong, warna, rasa, maupun rendamen kacang
metenya.
b.
Pengolahan Gelondong Mete
Pengolahan gelondong mete dapat dilakukan melalui
tahapan berikut ini:
- Pemisahan gelondong dengan buah semu
- Pencucian
- Sortasi dan pengelasan mutu
- Pengeringan
- Penyimpanan
c.
Pengolahan Kacang Mete
Urutan pengolahan kacang mete adalah:
- Pelembaban gelondong mete
- Penyangraian gelondong mete
- Pengupasan kulit gelondong mete
- Pelepasan kulit ari
- Sortasi dan pengelasan mutu
- Pengemasan.
III. PENUTUP
A.
Kesimpulan
Bahwa budidaya
tanaman jambu mente memiliki potensi untuk dibudidayakan karena memiliki nilai
jual yang cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani serta
menjadi konservasi tanah dan air. Variasi mutu kacang mete tersebut
antara lain dipengaruhi oleh varietas tanaman jambu mete yang berbeda dan
perlakuan serta pengawasan selama proses pengolahan berlangsung.
B.
Saran
Disarankan agar dilakukan praktek tentang budidaya jambu mente dengan pemberian pupuk organik
dan cara – cara penganan pasca panen.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2005. Teknik Budidaya Jambu Mente. Lokakarya, Bandung.
Nunug, 2000. Budidaya Jambu Mente. Bina Aksarah, Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar